Kamis, September 17, 2026
spot_img
BerandaNewsDari Madiun ke Belanda, Kala Silat Mataraman Memikat Publik Eropa

Dari Madiun ke Belanda, Kala Silat Mataraman Memikat Publik Eropa

WARTAPRIBUMI, BELANDA – Pencak silat asal Madiun kembali menunjukkan taringnya di kancah global. Sebanyak enam pesilat dan seniman terpilih resmi melangkah ke panggung dunia dalam ajang 1st International Pencak Silat Cultural Heritage Festival 2026. Ajang bergengsi ini digelar pada 8–12 Oktober 2026 di De Bron, Amersfoort, Belanda, atas undangan resmi dari Nederlandse Pencak Silat Federatie (NPSF).

Delegasi Indonesia ini merupakan kolaborasi dua sanggar binaan Perguruan Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM) Sanggar Satria Krida Manggala (Kabupaten Madiun) dan Sanggar Seni Budaya Sugeng Santoso (Kota Madiun). Meski berasal dari dua wilayah administratif yang berbeda, keduanya menyatu membawa satu akar pakem yang sama, menegaskan identitas Madiun sebagai “Kampung Pesilat”.

Diplomasi Budaya dan Dukungan Nasional

Misi kebudayaan ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dana Indonesiaraya sebagai tulang punggung partisipasi. Dukungan strategis dari MIND ID serta Pemerintah Kabupaten Madiun turut memungkinkan pertunjukan tampil dengan komposisi lengkap dan megah di hadapan publik Eropa.

Di Amersfoort, delegasi Madiun mempersembahkan repertoar bertajuk “The Spirit of Mataraman, Pencak Silat from Madiun”. Pertunjukan tersebut merangkum karakter khas pencak silat Mataraman yang tegas namun santun, serta berakar kuat pada nilai-nilai persaudaraan.

Menyambung Jejak Sejarah Nusantara

Bagi PSHWTM, keberadaan di panggung internasional menjadi kelanjutan syiar yang berkesinambungan. Setelah sukses tampil di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina pada 2024, kehadiran di Belanda tahun ini menandai kematangan pembinaan seni silat Madiun di forum lintas negara.

Partisipasi ini juga sarat akan makna sejarah. PSHWTM terus merawat keilmuan “Setia Hati” yang diajarkan oleh Ki Ngabehi Soerodiwiryo (Eyang Suro) sejak 1903. Dalam festival ini, delegasi Madiun bersanding dengan aliran lain, seperti Harimau Singgalang (Sumatera Barat) dan Panglipur (Jawa Barat). Pertemuan ini seolah merajut kembali sejarah seabad lalu, saat Eyang Suro menghimpun jurus-jurus dari berbagai penjuru Nusantara termasuk Minangkabau dan Sunda menjadi satu kesatuan yang adiluhung.

Bayu Supriyanto, Ketua Sanggar Satria Krida Manggala mengungkapkan rasa harunya, tampil di panggung eropa merupakan kebanggaan tersendiri.

“Kami ini anak-anak desa dari Caruban. Dulu, bisa tampil di panggung kabupaten saja sudah kami syukuri. Sekarang, membawa nama PSHWTM dan Madiun ke Belanda adalah mimpi yang jadi nyata berkat latihan tekun dan doa orang tua,” ungkapnya.

Sementara itu Iwan Budi Prasetiya, Ketua Sanggar Seni Budaya Sugeng Santoso, langkah penuh makna ini merupakan salah satu bentuk syiar PSHWTM.

“Ini adalah bentuk lanjutan syiar PSHWTM di Benua Biru. Keberangkatan bersama dari Kota dan Kabupaten Madiun sebagai satu delegasi membuat langkah ini terasa sangat bermakna,” ujarnya.

Dukungan juga mengalir dari Bupati Madiun, Hari Wuryanto mengatakan, pencak silat merupakan sebuah identitas Indonesia, terlebih Madiun yang dikenal sebagai kampung pesilat.

“Ini kebanggaan luar biasa. Saat wakil kami tampil di Eropa, sebutan Kabupaten Madiun sebagai Kampung Pesilat terbukti bukan sekadar slogan, melainkan identitas yang benar-benar hidup dan mendunia,” tegasnya.

Dari pihak penyelenggara, President NPSF Olivier Blancquaert menjelaskan alasannya mengundang delegasi Indonesia.”Kali ini kami membalik keadaan. Jika biasanya pesilat Eropa yang datang ke Indonesia, kini kami mengundang guru-guru dari Indonesia untuk mengisi akhir pekan istimewa di Belanda dengan lokakarya dan peragaan autentik,” jelas Olivier.

Joened Agung Sumarwan, Ketua Koordinator Delegasi Indonesia (Naine Visual Productions), menekankan pentingnya keragaman.

“Tugas kami adalah memastikan Indonesia hadir secara utuh. Perbedaan aliran dari Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Madiun justru menunjukkan betapa kayanya pencak silat Indonesia karena tumbuh dari banyak akar,” katanya.

Lebih dari Sekadar Bela Diri

Selama lima hari, rangkaian acara diisi dengan FGD kemitraan strategis, penandatanganan MoU kerja sama kebudayaan, hingga kunjungan kehormatan ke KBRI di Den Haag. Kehadiran delegasi Indonesia menempatkan pencak silat bukan sekadar seni bela diri, melainkan instrumen diplomasi budaya yang kuat.

Bagi PSHWTM, pencak silat adalah olah jiwa dan pikiran untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Prinsip adiluhung dan edipeni luhur nilainya dan indah wujudnya inilah yang kini disyiarkan kepada dunia. Dari Madiun, kedamaian dan keindahan budaya Nusantara kini dapat dirasakan oleh masyarakat global. (*)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular