WARTAPRIBUMI, MAGETAN – Olahraga merupakan aktivitas fisik yang dipergunakan untuk menjaga kesehatan tubuh, salah satu olahraga yang cukup banyak diminati biasanya bersepeda, jogging, mendaki gunung atau hanya sekedar berjalan kaki.
Namun, bagaimana dampaknya jika kita berolahraga dengan berlebihan yang tidak sesuai dengan kemampuan tubuh serta kurangnya melakukan pemanasan atau peregangan. Hal itu dapat menyebabkan lutut terkena iliotibial band syndrome (ITBS).
Menurut Anggota Indonesia Conditioning Coaches Association (ICCA) yang juga Fisioterapis peraih sertifikat FIFA Diploma in Football Medicine, Muhammad Sufi Cahya Mahabbatullah, iliotibial band syndrome (ITBS) merupakan cedera akibat berlebihan dalam menggunakan jaringan ikat paha pada bagian luar dan lutut, jaringan ikat iliotibial merupakan jaringan kuat dan tebal yang terbentang mulai dari tulang pinggul hingga ke bagian lutut dan bagian atas tulang kering.
“Adapun fungsi dari jaringan ikat iliotibial untuk membantu menjaga kestabilan bagian luar lutut kaki pada saat bergerak serta membantu pergerakan sendi panggul dan mengkoordinasikan fungsi otot,” ujarnya kepada Warta Pribumi, Kamis (15/12/2022).
Dijelaskan lebih lanjut, ITBS merupakan cedera yang menyebabkan nyeri pada bagian luar lutut pada saat berlari atau saat tumit kaki menapak kebawah.
“ITBS cukup sering dialami pada olahragawan yang banyak menggunakan lututnya secara berulang, contohnya pelari jarak jauh dan pesepeda. Serta didukung dengan faktor penggunaan otot secara berlebihan dan berulang dengan cara yang tidak tepat, atau sering kita dengar dengan istilah overuse, kebiasaan olahraga dan fleksibilitas otot yang buruk,” jelasnya.
Gejala Iliotibial Band Syndrome
• Terasa nyeri pada sisi luar lutut tepatnya di atas sendi, disertai bengkak
• Sensasi terbakar dan seperti tertusuk jarum di bagian luar lutur
• Nyeri akan timbul setiap kali tumit menyentuh lantai
• Sebagian orang juga merasakan bunyi letupan di bagian lutut
Terkadang, lanjut Sufi, Gejalanya cukup sering hilang timbul pada bagian luar lutut, kalau dalam posisi tidak bergerak rasa sakitpun tidak terasa, tetapi jika digunakan untuk berjalan 10 meter saja atau berlari 100 meter, baru terasa nyeri kembali timbul.
“Jika terasa nyeri, bisa lakukan protokol RICE (Rest, Ice, Compress dan Elevasi), pada fase akut awal sebagai upaya pertolongan pertama untuk meredakan nyeri dan peradangan yang terjadi,” ungkapnya.
Protokol RICE merupakan pengobatan untuk yang biasanya dilakukan untuk cedera akut, khususnya cedera jaringan lunak (Sprain mupun Strain).
Protokol RICE Meliputi
• (Rest) Mengistirahatkan bagian tubuh yang cedera. Tujuannya untuk mencegah cedera lebih lanjut dan membantu proses penyembuhan luka
• (Ice) Memberikan efek dingin untuk membantu menurunkan suhu disekitar jaringan yang mengalami cedera
• (Compression) Pemberian penekanan kepada jaringan yang mengalami cedera
• (Elevasi) Meninggikan badan yang mengalami cedera melebihi ketinggian jantung sehingga dapat membantu mendorong cairan keluar dari daerah pembengkakan
Jika cedera pada lutut tidak segera ditangani, dapat menimbulkan problem lain atau kompensasi dari cedera yang tidak segera ditangani dengan tepat, kompensasi tersebut bisa berupa lower back pain maupun skoliosis atau tulang belakang bengkok membentuk huruf S dalam jangka panjangnya.
“Cedera lutut jika dibiarkan akan membuat jalannya tidak stabil karena membatasi gerakkan lutut pada yang sakit itu, jadi disitu ada pola gerak yang hilang, maksudnya kalau yang kakinya sakit pasti cara jalannya berbeda. Nah itu bisa mempengaruhi pelvisnya menjadi tinggi sebelah, kalau terus dibiarkan, itu bisa menimbulkan lower back pain (LBP) atau nyeri punggung dan skoliosis,” ucapnya.
Terapi fisik oleh fisioterapis juga cukup membantu dalam menangani pasien iliotibial band syndrome, untuk salah satu pencegahannya, meliputi mempertahankan atau memperbaiki fleksibilitas dan kekuatan pada otot bagian punggung bawah, panggul, lutut, dan tungkai.
“Kuncinya adalah mencegah agar kondisi ini tidak kambuh lagi,” Anggota Indonesia Conditioning Coaches Association (ICCA) yang juga Fisioterapis peraih sertifikat FIFA Diploma in Football Medicine, Muhammad Sufi Cahya Mahabbatullah. (*)

