WARTAPRIBUMI, MAGETAN – Di awal tahun 2023 minggu ketiga ini, Bupati Magetan Suprawoto menandainya dengan sebuah buku. Kali ini berupa buku yang berjudul “Antuk Amanah Bupati Magetan” yang terbit pada tahun 2022 dengan berbahasa Jawa yang ditulis ketika beberapa waktu lalu sakit karena cedera kaki selama satu bulan.
Dalam buku tersebut diceritakan bagaimana alasan dirinya bersedia menjadi Bupati, serta kebijakan apa saja yang diambil selama menjadi orang nomor satu di Magetan tersebut.
“Di dalam buku saya “Antuk Amanah Bupati Magetan” disitu bisa dilihat apa alasan saya mau jadi Bupati apa adanya dan kemudian tentang apa saja dan seputar kebijakan apa saja yang ada di Kabupaten Magetan,” ujarnya saat diwawancarai awak media dalam acara Mbulan Ndadhari episode-9 di Pendapa Surya Graha, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Sabtu (21/1/2023) malam.
Adapaun kebijakan Bupati Magetan yang tertulis didalam buku berjudul “Antuk Amanah Bupati Magetan” dimulai dari Lrogram 100 Hari, Memperbaiki Alun-alun Magetan, Launching Mal Pelayanan Publik, Penghijauan Hutan Kota, Wabah Covid-19, Mbulan Ndadhari dan Parade Senja, hingga Infrastruktur jalan dan jembatan di Magetan.
Di dalam buku yang memiliki 170 halaman tersebut, diceritakan Bupati Suprawoto, mencalonkan Bupati salah satunya selain ingin memberi sumbangsih terhadap kemajuan Kabupaten Magetan, juga ingin menjadi benteng untuk bahasa Jawa yang seiring berjalannya waktu semakin modern sehingga membuat banyaknya orang Jawa kok malah membaca bacaan bahasa jawa semakin lama semakin hilang.
“Penduduk kita itu 270 juta orang Jawanya berapa 150 juta lebih tapi tidak ada yang bacaannya bahasa Jawa, saya sedihnya di situ, kalau saya menulis bahasa Indonesia udah banyak lainnya. Dengan tulisan dengan bahasa Jawa yang mudah dipahami, saya ingin mengingatkan kembali bahwa kita semua ini orang Jawa, jadi biar ingat bahasanya,” ungkapnya.
Tak hanya itu, dengan karya-karya luar biasanya, Bupati Magetan pun juga memperoleh dua Rekor MURI, yakni Autobiografi pertama dalam bahasa Jawa dan Bupati terlama yang menulis dua bahasa terlama di media massa.
“Kalau kita ingin membuat sebuah karya, buat lah yang unik, yang mungkin sulit akan ditiru oleh orang lain,” tuturnya.
Dalam kegiatan bedah buku tersebut, juga menghadirkan beberapa narasumber seperti Sutejo, pegiat literasi dari ponorogo, Narko Sodrun Budiman, Pimpinan sanggar Triwida Tulungagung dan Tulus Setiyadi, Pimpinan Rumah Tulus Setiyadi. Bupati pun juga menyerahkan penghargaan Suripto, PNS departemen Pendidikan dan Kebudayaan Magetan mulai tahun 1971-1985 sebagai pencipta lagu Magetan Kumandang. (can/red)

